Impressive Girls -- 7 KERAGU-RAGUAN

Original Story by Ghee
Rewrite by Natthalie Loo

“Viggo dateng ke Indonesia buat ngejar kamu?” seru Lola. “Aku ga bilang dia datang buat ngejar aku” sanggah Ceries. “Kalo bukan buat kejar kamu, buat apaan dong?” tanya Erine. “Meneketehe” jawab Ceries. Jam istirahat siang di kantin tempat yang biasa buat SCELLo ditambah 2 personel tambahan yaitu Kyo dan Andrew. Sejak investigasi tempo hari, memang nih anak-anak jadi lebih akrab.
“Sapa tuh Viggo?” tanya Kyo sambil makan bakso dengan lahap. “Kenapa sih nih mahluk jadi-jadian ikut-ikutan duduk bareng kita” Lola masih aja tetep kesal ama Kyo. “Trus kenapa juga aku harus duduk di sini” seru Andrew pelan. “Viggo tuh cowo yang dijodohin ma Ceries” jawab Erine. “Dijodohin? Di Amrik ada yang gituan juga. Emang ini jaman Hikaru Genji?” seru Kyo geli.
“Tuh kan Kyo aja bilang begitu” seru Ceries kesal. “Kenapa La? Tanya Ceries melihat muka aneh Lola. “Panjang umur” seru Erine. “Ha” seru Ceries heran. Andrew memberi isyarat dengan kepalanya kepada Ceries agar berbalik. Belum juga Ceries berbalik, seseorang meniup telinga Ceries.
“Kya” Ceries setengah berteriak sambil memebangi telinganya. “Good day honey” seru Viggo tersenyum. “What are you doin here?” teriak Ceries. “Lho, ini kan sekolah aku” jawab Viggo. “What?? Kamu pindah ke sini juga. Oh, God ngapain sih kamu ngekorin aku terus?” seru Ceries.
Sekedar info saja Viggo sebenarnya seumuran dengan SCELLo dkk. Bedanya nih sekarang Viggo udah kelas 3 SMA. Why? Dulu waktu sekolah di Amrik dia pernah lompat kelas sekali. Dengan kata lain Viggo ini murid jenius sampe bisa pake acara lompat kelas segala.
“Hello Viggo, lama ga ketemu ternyata ga berubah juga” sapa Lola. “Masih aja dengan semangat ngejar Ceries” seru Erine. “Bisa diam ga sih kalian” sergah Ceries. “Hello ladies, lama ga jumpa. Btw nih, 2 orang ini sapa yah? Kita nelom kenalan kan?” balas Viggo ngelirik Kyo dan Andrew. “Aku Viggo tunangannya Ceries.” “Sapa yang tunangan kamu” seru Ceries menjitak kepala Viggo.
“Oh, hi aku Kyo. Trus ini Andrew pacarnya Lola” seru Kyo. Andrew hanya melambaikan tangannya saja. “What pacarnya Lola? Ada yang mau sama Lola?” seru Viggo. “Eh, Go jangan cari gara-gara ya” bentak Lola. “Btw again, kok hari ini Lluna aja yang lesu sih? Lagi dapet ya?” tanya Viggo disertai dengan jitakan dari Ceries.
“Ga kok. Cuman ga enak badan aja” jawab Lluna memaksa dirinya tersenyum. “Kamu sakit Na?” tanya Lola “Ga mungkin karena kurang tidur kali. Semalam ga bisa tidur nyenyak” jawab Lluna. “Tapi badan kamu agak anget lho Na” seru Erine memegang kening Lluna. “Ga pa-pa kok Rin” Lluna mati-matian meyakinkan. “Bener nih? Sakit kamu ga kambuh kan?” tanya Ceries. “Ga. Aku ga pa-pa beneren kok.” “Perlu makan kali” seru Kyo melihat dari tadi Lluna ga mesen makan minum apapun. “Iya tuh Na, kata Ceries biasa kamu kambuh kalo ga makan kan” tambah Viggo. Sementara Andrew duduk aja memperhatikan Lluna dan no comment.
“Semuanya thanks banget atas perhatian kalian. Tapi sumpah aku ga apa-apa. Ok” sanggah Lluna lagi. “Ya udah” seru Lola. “Ok. Aku baru ingat kalo aku pengen cari buku, so aku ke perpus dulu ya” kata Lluna sambil berdiri. “Mau ditemenin Na?” tanya Lola. “La, aku baik-baik aja. Ok. Jadi ga usah ditemenin” Lluna berbicara dengan nada kesal. “Ok” seru Lola pelan heran melihat tingkah temannya. “Sori” seru Lluna dan berlalu pergi.
“Belakangan Lluna kaya jadi aneh banget deh” seru Erine. “Setuju tuh. Saking anehnya laptop aja ga pernah dipegang” lanjut Kyo. “Ia tuh, belakangan Lluna jadi lebih diam dan sering uring-uringan” sambung Lola. “Biarin aja lha dulu. Barangkali ada yang lagi dia pikirin” kata Ceries.
Tiba-tiba saja Andrew bangkit berdiri dari kursinya. “Lho, mau ke mana Drew?” tanya Lola. “Emm, toilet. Kalo mau balik ke kelas duluan balik aja” jawab Andrew dan segera berlalu. “Ia nih balik ke kelas aja yuk” ajak Erine. Mereka beranjak berdiri dan kembali ke kelas. Tapi begitu udah mau sampe ke kelas, Lola berhenti.
“Em, kalian duluan aja ya. Aku liat Lluna dulu deh. Lagian udah mau masuk entar dia telat lagi kalo ga diingatin” seru Lola kemudian segera pergi. “La” teriak Ceries bermaksud mencegah tapi Lola ga denger. “Udah biarin aja Ris” kata Erine. “Mudah-mudahan aja ga ada masalah” batin Ceries.
Sementara itu Lluna mencari tempat yang paling sepi buat mojok, bersandar pada rak buku terdekat dan menghela nafas. Belum lama Lluna meratapi nasib di sana tiba-tiba saja Andrew nongol. “Lagi ngapain?” tanyanya. “Andrew” Lluna tersentak kaget. “Kamu ga sakit?” tanya Andrew. “Ga cuman lagi bete aja” jawab Lluna.
Hening beberapa saat sampai akhirnya Lluna bicara. “Oh, ia sori ya buat yang tempo hari ya.” “Hah?” “Tempo hari kan kita sempat berantem, ya aku ngerasa tempo hari aku agak keras aja sama kamu. Sori ya waktu itu aku lagi emosi soalnya” kata Lluna. “Oh, ga pa-pa kok” jawab Andrew. Lagi-lagi keheningan melanda mereka berdua. Kali ini lagi-lagi Lluna yang memecah keheningan.
“Belakangan keknya aku bikin semua khawatir deh, apalagi Lola. Rasanya aneh juga kalian pacaran ya” seru Lluna. “Btw aku belum ucapin selamat ke kamu kan? Jaga Lola baik-baik lho” lanjut Lluna. Hening sejenak kali ini Andrew yang duluan bicara. “Na, kamu nangis?” Kaget mendengar pertanyaan Andrew Lluna segera menyeka air matanya. “Lho, kok bisa ya?” serunya. Bukannya berhenti, air mata Lluna jatuh makin banyak.
Tak ingin dilihat seperti itu, Lluna segera membalikkan badannya. “Na” panggil Andrew. “Ga, jangan liat aku” jawab Lluna. Selama ini Lluna memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan orang lain, baru kali ini hal seperti ini terjadi. Dengan perlahan namun pasti, Andrew mendekat dan memeluk Lluna dari belakang. Mencium rambut Lluna dalam rangka menenangkannya.
Sementara itu Lola masih aja mencari Lluna di perpus. “Lluna ke mana sih?” seru Lola terus mencari. Lola terhenti di rak buku paling terakhir, menoleh ke kiri dan segera mundur ke belakang bersembunyi. “Itu kaya Andrew deh” batin Lola. Penasaran Lola menelusuri rak buku di depannya, dan mengintip di celah-celah buku. Dan ternyata memang yang dilihatnya adalah Andrew yang lagi meluk Lluna.
Bingung, Lola akhirnya memutuskan untuk pergi dari perpus. Pergi mencari tempat sepi di lantai teratas gedung sekolahnya. Di sana Lola memandangi langit biru, sambil memikirkan tentang dirinya, Andrew dan Lluna. Lola suka sama Andrew, tapi dia juga ga ngerti batas sukanya itu sampai mana. Hanya sebatas teman,saudara atau lebih dari itu membuat perasaan Lola menjadi tak menentu.
Kemudian lamunan Lola dibuyarkan sebuah suara. “Ngapain di situ” seru Kyo. “Kyo, kamu sendriri ngapain di sini. Bolos?” Lola bertanya balik. “Kira-kira seperti itulah” jawab Kyo. Mereka berdua duduk berdampingan sambil memandangi langit. “Muka senpai kusut deh. Lagi mikirin apaan?” tanya Kyo. “Ga mikir apa-apa kok. Cuman lagi bertanya-tanya aja, apa aku dan Andrew ga kaya orang lagi pacaran ya?” “Ga kentara banget deh, ga ada mesra-mesranya soalnya” seru Kyo.
“Untuk menghilangkan kemurungan kamu, gimana kalo lusa kita pergi ngedate?” tanya Kyo. “Ngedate? Emang aku pacar kamu?” tanya Lola. “Anggap aja gitu deh, kan cuman buat sebentaran doang” jawab Kyo. Lola hanya tertawa mendengar omongan Kyo, tapi mengiyakan ajakannya. “Ok.”  Mereka akhirnya menghabiskan sisa jam pelajaran di sana. Tapi kalo dipikir-pikir Lola dan Andrew emang kaya bukan orang pacarankan, ga ada mesra-mesranya.
Jam pulang sekolah kelas ga langsung bubar, karena pensi udah dekat seisi kelas mau membicarakannya. “Ok, jadi pensi kali ini udah diputuskan kita akan bikin cafe mini” seru Christophe selaku ketua kelas. “Trus buat Miss and Mr sekolahan taun ini, udah diputusin pasangan yang bakal maju itu Kyo dan Lola” seru Chris lagi disambut tepuk tangan seisi kelas.
“What, kok aku sama Kyo. Aku ga mau” protes Lola. “Yah, kalian kan pacaran. Pasangan paling heboh pula. Jadi paling cocok itu kalian” jawab Chris. “What sejak kapan aku pacaran sama nih mahluk. Pacar aku tuh Andrew “ protes Lola lagi. “Hah” seru kaget seluruh kelas, kecuali yang udah tau tentunya.
“Bukannya Andrew pacaran ama Lluna kan?” tanya Chris lagi disetujui dengan anggukan kepala sebagian orang. Hal ini jelas membuat Lluna jadi ga enak hati, tapi Andrew sih sante aja tuh tanpa ekspresi seperti biasa. “Sori membuat kalian salah sangka, tapi pacar Lola emang Andrew” jawab Kyo.
Seisi kelas jadi berisik dengan bisik-bisik ga enak. “Eh, masa sih. Mereka kaya ga pacaran aja tuh.” “Padahal menurutku Lluna lebih cocock buat Andrew.” “Lola mah cocoknya ya sama Kyo aja.” Jelas hal ini membuat SCELLo, Kyo dan bahkan Andrew jadi ga enak dengernya. Apalagi Lola nih, yang kayanya udah agak manyun.
Seisi kelas terdiam begitu mendengar bunyi bangku yang kedengaran waktu Andrew berdiri dari kursi. “Yuk La pulang” seru Andrew pada Lola. Lola yang awalnya agak kaget, segera mengambil tasnya. Yang bikin Lola kaget nih, Andrew menggenggam tangan Lola. “Sudah diputuskan kan Kyo sama Lola. Jadi rapat selesai” seru Andrew pada Chris. “Oh, ok” jawab Chris.
Sampai di parkiran Andrew masih menggenggam tangan Lola. Dan baru dilepasnya ketika mau menstater motornya. Lola masih aja kaget dengan hal ini, soalnya ini pertama kalinya Andrew mengang tangan Lola. “Kenapa?” tanya Andrew yang melihat Lola masih kaget. “Ga” jawab Lola. Sebelum Lola naik motor Andrew ngomong. “Lusa ada waktu?” tanyanya. “Ha” Lola Cuma bisa berseru kaget dan kemudian mengangguk. “Aku jemput jam 4 abis pulang sekolah” kata Andrew masih tanpa ekspresi.
Mendengar ajakan ngedate, Lola jadi girang minta ampun. Senyum pun tersungging di bibirnya. Sedikit-sedikit sepertinya keraguan dalam hati Lola mulai sirna. Sepertinya.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

v