Impressive Girls -- 6 HAL-HAL GA TERDUGA PART 2

Original Story by Ghee
Rewrite by Natthalie Loo


Hari ini hari jumat, hari Lola kembali ke sekolah. Saking sengangnya hari ini Lola ga telat bangunnya dan berangkat ke sekolah dengan riang. Sesampainya di sekolah sepanjang jalan dia disapa oleh semua siswa yang berpapasan dengannya. “Pagi La.” “Morning Lola.” “Eh, Lola udah masuk lagi.” Gitu deh kira-kira, suasana udah embali kek semula sebelum insiden foto terjadi. Itu artinya teman-teman Lola berhasil.
Sebelum ke kelas Lola memutuskan untuk singgah ke mading. “Besok pagi liat mading ya La” seru Lluna ceria ketika nelpon Lola malam sebelumnya. “Kita ada surprise buat kamu” seru Ceries. Lola penasaran banget apa yang udah dilakuin sama sohibnya itu. Begitu sampai di mading yang udah dikerumunin orang, Lola langsung nyerobot ke bagian depan.
Di mading tertulis dengan jelas surat pengakuan bersalah yang ditulis Gina. Intinya Gina mengaku kalo foto Kyo Lola yang tempo hari cuman rekayasa. Dan karena Kyo Lola sampe harus diskors dia jadi ga enak hati dan menulis pengumuman itu. Ditambah lagi nih, foto Gina yang lagi nyium monyet yang tentu aja di rekayasa juga.Lola ketawa geli ngelaitnya. Puas ngeliat mading, Lola segera ke kelas.
“Morning” teriak Lola begitu sampe ke kelas. “Morning” jawab semuanya kompakan. Dengan riang Lola segera duduk di tempatnya. “Gimana madingnya keren g?” tanya Erine. “Keren banget, saking kerennya perutku sakit karena ngakak nih” Lola tertawa. “Btw gimana dengan pak William?” tanya Lola kemudian. Segera aja Lluna nyodorin netbooknya ke Lola. Terpampang lah di sana foto badan monyet tapi kepalanya pak William.
“Hmph.... hahahahahaaha” Lola ngakak sampe sakit perut. “Bagus kan” seru Ceries. “Mantap banget” jawab Lola cengengesan. “Tapi btw nih ya Gina ama pak William bakal diapain sama kepsek ya?” tanya Lola. “Bentar juga tau” seru Andrew dari tempat duduknya.
“Gina, kamu terpaksa diskors selama 10 hari karena perbuatan kamu” kata bu kepsek. Dalam sidang kali ini SCELLo plus Andrew bu Dora dan pak William selaku wali kelas Gina ikut diundang juga. Gina hanya bisa menunduk pasrah dengan keputusan itu. “Ok sekarang kamu udah bisa keluar”kata bu kepsek lagi.
Setelah Gina keluar bu kepsek berbicara pada SCELLo plus Andrew. “Seperti biasa kalian selalu saja heboh. Tapi, kalian harus diberi ucapan terima kasih dalam hal ini.” Semuanya hanya bisa senyum-senyum senang saja. “Beritau Kyo, dia sudah boleh masuk senin ini. Hukumannya dicabut.” Semuanya cuma mengangguk ringan saja. “Sebagai permintaan maaf dan terima kasih ajak juga Kyo minum teh di ruanganku senin nanti ya” lanjut bu kepsek sambil berlalu menuju pintu. Dan yang lainnya masih senyum-senyum saja.
“Ah ia satu lagi” bu kepsek berbalik lagi. “Untuk pak William, karena kelalaian anda dalam menyimpan password yang dengan susah payah dibuat Lluna sehingga, membuat 2 anak terpaksa menerima hukuman tidak sepantasnya dan jadi tidak bisa mengikuti pelajaran selama beberapa waktu. Anda diskors selama 2 minggu.” “Ta...ta... tapi bu” pak William terbata-bata. “Tidak ada tapi-tapian dan hukumannya dimulai hari ini” seru bu kepsek dan akhirnya keluar dari ruangan disusul bu Dora. Terakhir pak William keluar dengan muka masam.
“Yeii” teriak semua. Sekarang jam 8 malam semua ada di rumah Kyo untuk ngerayaiin kemenangan ini. “Kenapa sih rumah aku yang selalu jadi markas kumpul kalian” gerutu Kyo. “Ini kan buat ngerayain keberhasilan kita, yang juga nguntungi kamu. Get fun aja Kyo” seru Ceries. “Pokoknya hari ini kita habis-habisan” teriak Lola. “Apanya yang habis-habisan? Tanya Kyo. “Lluna keluarin” perintah Lola. “Tada” seru Lluna mengeluarkan isi bungkusan yang di bawanya.
“Gila. Kita mau minum wine?” protes Kyo. “Oi, sadar ga sih kalo kita masi dibawah umur” Andrew berseru. “Peraturan kan dibuat untuk dilanggar. Ga pa-pa kok” kata Lluna. “Ia lagian kan wine kadar alkoholnya agak rendah jadi ga masalah. Lagian cuma 3 botol” lanjut Erine. “Kata siapa cuma 3 botol, aku juga bawa kok” Ceries mengeluarkan winenya. “Udah deh, Kyo ga usah jaim” Lola setengah berteriak. “Ya, kalo mabok siapa yang mau bawa pulang” hardik Kyo.
“Aku ga ikutan. Mau pulang aja” kata Andrew bangkit berdiri. Dengan segera Lluna, Lola dan Ceries nahan tangan Andrew. “Mau ke mana Drew” seru Ceries genit. Sementara itu Erine yang dari tadi ternyata udang bongkar dapur Kyo untuk cari gelas, udah mulai nuangin wine buat semuanya. “Ayo Drew kamu harus ikut. Ini kan berkat kamu juga” seru Lluna yang jadi senjata telak buat Andrew.
Akhirnya mereka pesta sampe tengah malam. Bahkan sampe mabok seperti dugaan Kyo, soalnya ternyata Ceries bawa banyak pasokan wine di mobilnya. Alhasil mereka semua ketiduran di rumah Kyo (termasuk Andrew juga) dan baru pulang ke rumah masing-masing esok harinya.

***

Hari senin Lola berangkat lebih awal daripada biasanya. Sesampainya di sekolah yang memang pada saat itu belum banyak orang, Lola melihat pemadangan aneh. Dari tempat parkiran Lola melihat Lluna dan Andrew yang tampaknya juga baru datang seperti sedang bertengkar di dekat pintu gedung utama. “Mereka ngapain ya?” batin Lola.
“Drew aku udah bilang baik-baik ke kamu berhenti nguntit aku” seru Lluna marah. “Ya, tapi akukan cuman... “ “Ga ada tapi-tapian. Kamu tuh kaya stalker tau ga sih, malah bikin aku jadi taku tauk. Aku bener-bener udah muak tauk. Kalo mu mending kuntit si Lola aja, barangkali dia malah seneng.” Lluna tampaknya cukup marah samapi-sampai dia sempat mendorong Andrew sebelum masuk ke gedung dengan marah. “Lluna...” panggil Andrew, dan tidak lama kemudian juga masuk.
Lola yang emang ga denger percakapan mereka merasa heran, segera mengikuti dari belakang. Sesampainya di kelas Andrew dan lluna tampaknya baik-baik saja tuh. Lluna lagi gosip dengan Erine dan Andrew lagi bolak balik buku kimia. “Oi, jangan ngelamun di tengah jalan La. Entar kesambet ghost lho” seru Ceries yang baru masuk. Segera aja Lola duduk di tempatnya. Baru juga mau bertanya soal apa yang dilihatnnya pada Lluna, penganggu lainnya datang.
“O-ha-you” teriak Kyo, segera menghampiri Lola “Ohayou senpai, aku kangen banget deh sama kamu.” “Ih, apa-apaan sih. Jangan dekat-dekat, hush..hush” usir Lola. “Wuih, keren amat abis nyalon Kyo?” tanya Ceries. Kyo emang keliatan beda hari ini, terutama nih model rambutnya yang jadi makin keren. “Gimana keren ga? Keren ga senpai” tanya Kyo. “Lumayan buat ukuran kamu” jawab Lola.
Akhirnya seharian ini Lola urung nanya ke Lluna soal tadi pagi. Tapi, waktu pulang sekolah Lola dapet kesempatan buat nanya ke Andrew. Soalnya nih, kebetulan hari ini mereka piket bareng. Tapi nih, belon juga Lola sempat nanya Andrew mulai bicara duluan.
“Em La. Kamu udah punya cowo?” tanya Andrew. Kebetulan aja nih si Kyo yang mau ambil barangnya kelupaan denger, dan akhirnya nguping dari pintu.  “Ha, belon. Kenapa?” jawab Lola. “Kalo gitu, gimana kalo kita jadian aja?” “Ha” Lola bener-bener kaget dengernya. “What, ni maksudnya Andrew nembak aku?” batin Lola.
“Ya, kalo ga mau ga pa-pa sih” kata Andrew. “Bukan gitu, tapi tiba-tiba banget.” “Gitu ya, jadi gimana?” Setelah mempertimbangkan sejenak, Lola akhirnya mutusin “Ok deh kalo gitu.” Mendengar jawaban Lola, Andrew hanya tersenyum aja. Tapi si Kyo yang nguping dari luar muakanya jadi aneh dan akhirnya langsung pulang.

“Aku harus minta maaf sama Andrew kalo dia datang nanti. Harus minta maaf, harus minta maaf..” gumam Lluna pelan pada keesokan harinya. Ga lama orang yang ditunggu Lluna datang. Baru juga mau manggil Andrew, Lola nongol di pintu dan berteriak. “Morning.” Berjalan cepat dan ceria ke tempat duduknya, memeluk dan mencium pipi Lluna. “Aduh, La apa-apaan sih. Berhenti” seru Lluna.
“Hepi banget sih La, ada apaan?” tanya Erine. “Aku punya berita bagus.” “Apaan?” tanya Ceries. “Aku udah jadian sama Andrew.” Mendengar itu senyum di wajah Lluna dan Ceries hilang. “Ha, jadian dengan Andrew? Bener Drew?” tanya Ceries. Andrew hanya mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan itu.
Mata Andrew ga sengaja bertemu dengan mata Lluna. Mereka bertatapan sebentar dan kemudian Andrew mengalihkan perhatiannya. “Yang bener aja Lola Andrew jadian? Bukannya Andrew suka Lluna kan, dari gerak-geriknya aja kentara banget. Padahal kemarin aku sengaja masangin mereka, tapi kok jadi gini?” batin Ceries menatap Lluna, Andrew dan Lola. “Bisa berabe nih nantinya, kalo Lluna gara-gara yang tempo hari suka ama Andrew” batin Ceries lagi.
“Kamu kenapaan Ris?” tanya Lola. “Ga kok. Cuman kaget aja Andrew mau sama macan kek kamu” dalih Ceries. “Kurang ajar banget. Kamu kali yang macan” jawab Lola. “Kalo gitu mesti dirayain donk” kata Lluna tersenyum tipis. “Bener banget tuh” Kyo asal nimbrung aja.
“Argh, bisa ga sih ga muncul tiba-tiba kaya hantu” pinta Lola. “Dan lagi jangan ngasal nyambung deh” seru Erine. “Ga pa-pa kali. Btw apa nih yang mau dirayain?” tanya Kyo. “Lola ama Andrew udah jadian jadi kita mau rayain” jawab Lluna. “Bener nih?” seru Kyo segera menuju ke tempat duduk Andrew. “Artinya kamu bukan hombreng dong” ejek Kyo. “Mau dihajar ya kamu Kyo?”
“So kita mau pesta di mana?” tanya Kyo lagi. “Eh, aku ga pernah bilang mau ajak kamu ya” seru Lola. “Gimana kalo kita clubbing aja?” tanya Lluna. “Clubbing? Ide bagus Na udah lama ga clubbing nih” jawab Ceries. “Ok, kita clubbing sabtu ini” seru Lola riang. Namun sekaranga senyuman dari wajah Lluna hilang digantikan mimik sedih dan hal ini ga luput dari penglihatan Ceries.
Hari sabtu mereka bener-bener clubbing di salah satu club yang cukup populer. Mereka bener-bener gila-gilaan, dance plus minum-minum ampe mabok. Terutama Lluna dan Kyo, mereka yang paling parah. “Udah cukup” Andrew nahan tangan Lluna yang baru aja mau menuang minuman untuk yang kesekian kalinya. “Ah, kenapa sih” rengek Lluna. “Nih, aku tuangin” seru Kyo. “Kyo kamu juga berhenti aja” seru Andrew.

“Ah, Drew biarin aja mereka deh” seru Ceries. “Kalo mabok siapa yang bawa mereka pulang?” gerutu Andrew. “Udah di antisipasi kok Drew. Aku bawa sopir jadi semuanya juga bisa dibawa pulang” kata Erine. “Rin turun yuk” ajak Lola. Setelah Erine dan Lola turun ke lantai dance, Ceries angkat bicara. “Drew kenapa kamu milih jadian ama Lola?” “Masih sadar toh” ejek Andrew. “Jawab dong” seru Ceries. Andrew hanya ngangkat bahu aja. “Apanya yang kamu suka dari dia? Kenal juga baru kan?” Lagi-lagi Andrew hanya menjawab Ceries dengan mengangkat bahunya.
“Denger ya Drew sapa pun jadi pacar kamu dengan alasan apapun, bukan masalah buat aku. Yang jadi masalah itu kalo kamu nyakitin temen aku. Mau itu Lola, Erine ato Lluna ga akan aku maafkan” kata Ceries dengan memberi penekanan pada nama Lluna dan Lola.
Akhirnya setelah bosan clubbing mereka pulang. Dan satu-satunya yang masih sadar cuman Andrew. “La bangun La jangan bobo” kata Erine mabok. “Kalo bobo kan ga bisa diantar pulang naek motor Andrew kan bego” seru Lluna lebih mabok lagi. “Udah masukin mobil ajah” seru Kyo. “Ah, Kyo di depan ajah” Ceries mendorong Kyo.
Akhirnya Lola dijejalin ke dalam mobil disusul dengan Erine dan Ceries. Andrew sebagai satu-satunya yang sadar menghela nafas panjang melihat mereka. “Na ga muat lagi nih mobilnya” seru Erine yang emang cuman bawa sedan aja. “Jadi aku pulangnya gimana?” “Naek taxi aja sis” ide Ceries. “Biar aku yang antar Lluna pulang” jawab Andrew sambil menarik Lluna. “Ga ah, entar Lola marah.” “Udah sama Andrew aja Lola ga marah kok” seru Kyo.
Akhirnya jadi juga Lluna diantar pulang sama Andrew. “Na udah sampe nih” seru Andrew. Lluna turun dari motor Andrew dengan oleng dan hampir jatuh, untung Andrew langsung nahan dia. Karena keknya Lluna ga bakal bisa masuk sendiri, akhirnya Andrew memencetkan bel untuknya. Ga lama pembokap Lluna muncul dari dalam rumah.
“Aduh, non kenapa lagi toh.” “Sori Bi. Agak mabok” jawab Andrew. “Anu, den bibi bisa tolong anterin non Lluna ke kamarnya ga.” “Ha” seru Andrew kaget. “Soalnya bibi teh ga kuat.” “Ga pa-pa nih bi. Entar orang tuanya marah lagi.” “Ga pa-pa toh den, bapak sama ibu ga ada di rumah.”
Akhirnya Andrew membopong Lluna ke kamarnya. Setelah membaringkan Lluna, bukannya keluar Andrew malah tinggal di dalam kamar. Andrew menatap wajah Lluna dan kemudian entah sadar ato ga membelai wajahnya. Begitu bibi masuk ke kamar Andrew segera berdiri. “Saya pulang dulu bi” kata Andrew. Tapi langkah Andrew terhenti karena Lluna ternyata menggenggam ujung jaket Andrew.
“Walah non dilepasin dong” seru bibi berusaha ngelepasin genggaman Lluna. Setelah terlepas bibi menyelimuti Lluna dan mengecup keningnya layaknya seorang ibu. “Tidur yang nyenyak ya non” seru bibi. Kemudian mengantar Andrew ke pintu depan. “Bi kok rumah ini kayanya sepi ya, ga ada orang lain emang?” tanya Andrew. “Iya den, bapak, ibu, juga den Felix kakaknya non Lluna kerjanya keluar negri aja. Ngurus bisnis melulu aja. Non ditinggalin sendiri aja di rumah. Dari kecil bibi yang ngerawat non” jawab bibi.
Bibi menghela nafas dan melenjutkan lagi. “Kasian non Lluna kesepian. Untung aja ada temen-temen non Lluna kek non Ceries, non Lola dan non Erine. Kalo ga mungkin sekarang non bergaulnya udah ga bener.” Percakapan mereka ini berakhir begitu udah sampai di pintu gerbang. Sebelum beranjak pergi Andrewmenyempatkan diri melirik kamar Lluna.
Sementara itu Ceries yang baru saja sampai di rumahnya. “Dadah” serunya pada yang lainnya. Dengan sedikit sempoyongan Ceries masuk lobi apartementnya, naik lift dan segera menuju kamarnya. Setengah jalan menuju kamarnya Ceries bertabrakan dengan seseorang. “Aduh jalan liat-liat donk” serunya. Ceries yang masih berada dalam pelukan orang itu, mendonggak melihat wajahnya. “Ah” serunya kemudian pingsan begitu aja. Cowo yang tadi ditabrak Ceries hanya bisa memandangnya saja dengan tatapan aneh.

***

Pukul 11.30 keesokan harinya Ceries masih aja tidur dengan pulas. Gimana ngga kemarin aja pulang dari clubbing jam 2 subuh mabok lagi. Ga lama kemudian Ceries mulai bergerak, antara mau bangun ato ngga. Mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan merentangkan tangannya. Ketika tangannya menyentuh sesuatu yang ga biasanya, tangan Ceries mencoba menerka apa yang disentuhnya dengan menepuk-nepuk.
Begitu tangan Ceries merasa menyaentuh sesuatu yang sepertinya kulit manusia hidup, Ceries membuka matanya perlahan-lahan. Dan ya Tuhan di depan Ceries, tepatnya di samping Ceries seorang cowo cakep lagi tidur dengan nyenyaknya. Ditambah lagi nih ga pake atasan, sontak ini membuat Ceries berteriak kencang. “Kyaaaaaaaaaaaaaa..........”
Teriakan Ceries tampaknya membuat cowo itu terbagun. “Ha, what happen? What happen?” seru cowo itu. Dengan marah Ceries berteriak “Viiiiggoooooooo.....” Cowo bernama Viggo itu berbalik menatap Ceries yang lagi marah besar. “Good morning honey” sapanya. Saking kesalnya Ceries mengambil bantalnya dan memukul Viggo sambil berteriak. “What are you doing on my bed. Bastard!!?”
“Auw, hey, hey kok aku dipukulin.” “Ngapain kamu di sini hah? Dan kenapa juga kamu ada di bed aku?” Ceries masi aja berteriak dan mukul Viggo. “Auw, berhenti dong. Gimana aku bisa ngomong kalo dipukulin terus.” Ceries berhenti memukul membiarkan Viggo ngomong. “Ya, tadi subuh kamu pulangnya dalam keadaan mabok trus pingsan. Kebetulan kita papasan, jadi aku bawa kamu masuk aja, daripada kamu dibiarin di luar terus.”
“And then, ngapain pake acara buka kaos segala?” Ceries masih aja marah. “Ya, becoz I always like this if I’m sleep.” “And then where is my clothes and why you sleep here?” Ceries mulai mukul Viggo lagi pake bantal. Soalnya nih ya rupa-rupanya sekarang Ceries cuman pake tanktop plus hot pants aja, baju luaran yang kemaren dia pake udah ga tauk ke mana. Ya pantas aja lha kalo dia marah.
“Aku males pulangnya udah malam soalnya ga tau jalan kalo udah malem” Viggo berusaha menghindari pukulan Ceries. “And then my clothes?” “Ya itu bukan aku, kemarin kamu sendiri yang buka juga.” “Kamu pikir aku percaya omongan bullshit kamu” Ceries mukulnya makin menjadi-jadi. “I swear. Aku ga nyentuh kamu sedikit pun” jawab Viggo.
 Sekarang Ceries udah ga mau tau lagi, dia berdiri menarik tangan Viggo dan menyeretnya sampai pintu depan dan melemparnya keluar sambil berterik. “Go out.” “Ceries, but my clothes...”  belum omongannya  selesai pintu udah dibanting ama Ceries. Viggo hanya bisa menarik nafas dan memencet bel. “Ceries bajuku gimana?” Ga lama kemudian pintu terbuka dan Ceries melempar kemeja Viggo keluar. “Kunci mo...” belum selesai ngomong lagi-lagi pintu udah dibanting menutup. Tapi ga lama kemudian pintu terbuka lagi, dan Ceries melempar kunci mobil Viggo tepat mengenai jidatnya. “Auw” seru Viggo kesakitan dan kemudian segera berlalu pergi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

v