Acidentally in Love??-- Chapter 11


Staring : TVXQ, Kim Yoo Bin, Lee Byul Hye, Kim So Eun, Jang Riin, Park Ji Soo
Author :Natthalie Loo

Hari ini sudah 12 hari leher Chang Min di bebat. “Hoahmmm” Chang Min bangun dari tidurnya. Pelan-pelan turun dari tempat tidur merenggangkan badannya, termasuk lehernya (ga sadar ^^). Tiba-tiba saja Chang Min sadar kalo lehernya tidak sakit lagi. Mencoba membalikkan kepalnya ke kiri dan kanan. “Asaa.. Tidak sakit lagi” serunya membuka bebat di lehernya. Namun gerakannya terhenti seketika, dan kemudian berpikir.
“Aigoooo, Chang Min apakah kau tidak panas dengan leher dibebat seperti itu?”Yoo Chun saking kepanasannya membuka 2 kancing bajunya sambil mengibas-ngibaskan bajunya. “Sedikit” jawab Chang Min canggung. “Hari ini memang cukup panas, tapi sepertinya aku tidak sepanas kau” kata Jun Su pada Yoo Chun. “Ne” sambung Yun Ho berjalan mendahului Jun Su. Mereka berlima berjalan kesekolah dengan santai. “Oh, ada ribut-ribut apa di gerbang sekolah?” seru Jae.
Melihat kerumunan kecil di depan gerbang sekolah, mereka segera mendekat. “Ya, bisakah kalian tidak menghalangi jalan?” terdengar suara kesal Yoo Bin. Jae dkk berusaha masuk ke dalam kerumunan. “Hei, kalian budek ato apa sih?” Ji Soo juga ikut kesal. “Wae? Ada apa ini” tanya Byul Hye menyerobot masuk kerumunan. “Orang-orang tolol ini berusaha menghalangiku masuk. Dan akhirnya yang lain tidak bisa masuk” seru So Eun. 
“Lho, kau kan belum memenuhi permintaanku” seru cowok di depan So Eun. “Aku tidak mau jadi jangan paksa aku jadi pacarmu, berandalan sialan.” “Mwo?” seru kaget Jae dkk plus Byul Hye. “Dengar ya si playboy Kim Bum, So Eun itu sudah punya pacar” jelas Riin. “Kalau begitu yang mana pacarnya?” ejek Kim Bum.
“Ya, kalo dibilang begitu maka memang begitu” protes Jun Su. “Siapa kau? Kau tidak ada urusan di sini” bicara sombong kim Bum. “Jelas saja ada. Pertama kau menganggu So Eun yang mengakibatkan kami tidak bisa masuk sekolah. Kedua aku merasa terganggu dengan kau dan teman-temanmu” Jun Su mulai gerah. “Sejak kapan bicaranya bisa jadi nantang gitu” seru lirih Yoo Chun.
Kim Bum melihat Jun Su sejenak, kemudian mendekatinya. “Kalo begitu apa kau pacar So Eun?” “Ne” seru spontan So Eun dan Jun Su bersamaan. Sontak semua teman sekolah mereka kaget minta ampun, secara selama ini mereka tidak tampak seperti pacaran. Begitu pula dengan Jun Su sendiripun kaget dengan jawabannya dan jadi sedikit salah tingkah dan melihat ke arah So Eun yang sepertinya menjawab dengan sadar.
“Apa yang kau katakan babo”Jun Su berbisik  di telinga So Eun. “Biarkan saja supaya dia cepet pergi” So Eun balas berbisik. “Jadi kau benar pacar So Eun?” tanya Kim Bum. “Nn.. ne. Memang kenapa?” seru Jun Su. “Kalau begitu buktikan” balasnya. “Eee..” seru kaget Jun Su. “Apalagi yang mau dibuktikan, mereka sudah mengaku bukan” Jae mulai agak kesal namun masih bicara dengan sopan. “Lagipula memangnya mau dibuktikan dengan cara apa?” sambung Yun Ho. “Ummm... Cium misalnya” seru Kim Bum.
“Mwo? Naega micheoh so? Ini di depan sekolah, kalo ada saengnim yang liat eottoghe?” seru nyaring Yoo Bin kesal. “Ne betul, apa kau mau tanggung jawab kalau mereka dikeluarkan?” sambung Chang Min. “Aku tidak peduli dengan itu” seru cuek Kim Bum. “Micheoh” seru Jun Su. Sementara So Eun sudah mulai geram dan menatap Kim Bum dengan tajam.
Hari ini hari yang sibuk, kejadian di depan gerbang, begitu masuk kelas langsung dikasih ujian dadakan dan jam olahraga yang super melelahkan. Bagaimana dengan Kim Bum, So Eun dan Jun Su?
Jam istirahat siang penuh dengan suara bisik-bisik tetangga. Di dalam kelas 3-1, di koridor depan kelas 3-1,di koridor lain, di seluruh sekolah sedang sibuk berbisik-bisik ria. “Eh, dengar-dengar Jun Su pacaran sama So Eun y?” “Masa sih, kok ga pernah keliatan kek orang pacaran!” “Yah, lagi-lagi cowok cakep untuk dikejar jadi berkurang deh.” “Sapa lagi cewek yang bisa di goda ya, udah ga ada lagi.” “Pertama Yoo Chun dan Riin, terus Yun Ho dan Ji Soo juga Chang Min Byul Hye. Sekarang Jun Su dan So Eun. Hah.. kita benar-benar sudah tak ada harapan.” Kira-kira demikianlah isi bisik-bisik itu.
Dari kelas ke kantin buat beli makan sampe kembali lagi ke kelas, Jun Su dan So Eun jadi bintang yang lagi jalan di atas red carpet. Pasang demi pasang mata memandangi mereka, suara demi suara bisik-bisik mengikuti mereka. Memangnya apa yang terjadi? Mari kita lihat kejadian tadi pagi.
“Dengar ya, aku bukan orang gila yang mau mencium seseorang di depan gerbang sekolahku sendiri dengan resiko bakal ketauan saengnim. Walaupun itu pacarku sendiri” seru Jun Su. “Takut ato memang So Eun bukan pacarmu?” balas Kim Bum. “Maksudmu?” tanya bego Jun Su. “Bisa saja kau ngaku-ngaku pacarnya So Eun hanya untuk menolongnya kan” jawab Kim Bum disertai tawa mengejek teman-temennya. “Hah, kau tau kau membuatku sangat kesal” seru Jun Su.
So Eun tampaknya sudah kehabisan kesabarannya, dia menepuk pelan pundak Jun Su. “Mwo?” jawab Jun Su ketus dan berbalik. Tiba-tiba kedua tangan So Eun melayang ke pipi Jun Su, ga keras memang tapi bibirnya jadi monyong. “So Eun apa yang ingin kau lakukan?” tanya Byul Hye curiga. So Eun menarik napas panjang. “Ya, kau tidak akan melakukannya kan?” tanya Jun Su sedikit panik. Sedetik kemudian So Eun melangkah maju dan mencium Jun Su. Kim Bum kaget melihat ini, karena dia pikir Jun Su bukan pacar So Eun. Begitu pula dengan semua orang yang berkumpul di sana, termasuk Jae, yoo Bin dll.
“Ya, apa yang kalian lakukan di sana” terdengar suara saengnim. Segera So Eun menjauh dari Jun Su. “Cih, sialan” seru Kim Bum dan segera pergi dengan teman-temannya. Sementara yang lain mulai berhamburan masuk, kecuali Jun Su yang jadi patung. “Kenapa kau masih berdiri di sana” Yun Ho segera menarik tangan Jun Su.  Dan ketika itu barulah Jun Su sadar.
Kembali ke masa sekarang.
“Lihat ini gara-gara kau” protes Jun Su ke So Eun. “Habisnya aku gerah liat dia sih” jawab So Eun. “Memangnya kenapa kalo kau merasa gerah? Jangan libatkan aku donk, sekarang liat apa dampaknya. Jangan-jangan nanti tak ada cewek lagi yang mau padaku.” “Memang pada dasarnya kau kurang laku kan” ejek Yoo Chun. “Kata siapa aku kurang laku, mantan pacarku sudah 5 orang tauk” balas Jun Su.
“Lima aja bangga, aku 7” seru bangga Yun Ho. “Heh, jadi aku yang ke-8? Artinya yun Ho playboy juga donk” tanya Ji Soo. “Bagiku Ji Soo itu yang terakhir” gombal yun Ho. “Jangan hanya karena cuma beda 2 saja sudah bangga. Jae juga baru 5 kok.” “Kau tidak ,menghitung Seo Hyun yang dipacarinya hanya selama 1 hari? Ditambah 3 orang lain yang ditolaknya” jawab Yun Ho. “Mwo? Sehari?” seru kaget Byul Hye. “Kalau mau tau jangka waktu pacaran Jae paling lama hanya 10 hari” sambung yoo Chun. “Nah, benar-benar buaya darat” ejek Yoo Bin. “Itu karena mereka memaksaku. Toh itu pun karena mereka terlalu cerewet, walaupun tak secerewet anak ayam” balas Jae.
Sebelum Yoo Bin sempat ngomong, Jun Su yang kesal pun langsung nyambung bicara. “Dari pada Chang Min yang belum pernah pacaran.” “Tidakkah kau ingat kalau dia sudah membuat total 12 cewek nagis, sepanjang hari dan tiap ketemu sama ChangMin. karena gimanapun mereka nembak dia, berapa kalipun dengan cara apapun....” omongan Jae terpotong. “Akan ditolak dengan super dingin” sambung  Jae, Chun, Ho serempak.
“Wae?” tanya Ji Soo. “Hanya sekedar tidak suka saja” jawab Chang Min muram. “Hah, menyebalkan... Pokoknya Kim So Eun kau harus tanggung jawab kalau sampai aku tidak bisa dapat cewek lagi.” “Ya sudah kita pacaran betulan saja kalau begitu. Beres kan?” seru kesal So Eun. “Mwo? Kenapa kau selalu bicara tanpa pikir sih?” tanya Jun Su. Dan begitulah mereka terus bertengkar, sampai Ji Soo bertanya pada Yoo Chun.
“Aku belum tau berapa banyak mantannya Yoo Chun. Setauku cukup banyak, tapi aku tidak tau ada berapa” Para cowok-cowok saling pandang, dan Yun Ho menjawab. “Sekitar 18 mungkin.” “Atau mungkin 20” sambung Jun Su. “Lebih mungkin” sambung Jae. “Sebanyak itu?” tanya Byul Hye “Yah, begitulah kalau orang populer. Bukan tidak mungkin kalau jumlahnya bertambah” seru Yoo chun bercanda.
“Auww...” beberapa kaki menendang kaki Yoo Chun di bawah meja. “Apa yang kalian lakukan?” protes Yoo Chun. Tapi yang lainnya hanya menatapnya dengan pandangan melotot, bahkan Chang Min yang sedang uring-uringan. “Wae?” tanyanya polos. “Oh, jadi jumlahnya mungkin akan bertambah ya” seru sinis Riin. Yoo Chun akhirnya sadar kalau Riin duduk di sebelahnya. “Ya, Riin itu hanya bercanda kok, buatku Riin satu-satunya.” “Oh” jawab Riin kemudian segera menampar Yoo Chun dengan keras sampai membuat yang lain kaget, kemudian segera pergi.
“Ya, jagya jangan marah donk aku hanya bercanda” seru lantang Yoo Chun. “Ini gara-gara kau sih” seru Yoo Chun geram pada Jun Su dan segera mengejar Riin. “Kok gara-gara aku, yang bertanyakan Ji Soo.” “Itu karena kau duluan yang mulai” jawab Ji Soo cengengesan.  Sementara Chang Min kembali jadi uring-uringan, tidur-tiduran di meja.
“Sejak kapan kau bisa menundukkan kepalamu untuk tiduran di meja tanpa merasa sakit leher?” tanya Jae pada Chang Min. “Sejak hari ini” jawabnya makin muram. “Oh, jadi sudah sembuh ya? Patut dirayakan kalau begitu” seru riang Jun Su. “Sekalian mereyakaan hari jadi Jun Su dan So Eun” tambah Yun Ho. “Siapa yang bilang begitu” protes kompak pasangan itu.
Yoo Bin yang merasakan keanehan pada Byul Hye dan Chang Min bertanya. “Ada apa denganmu? Seharusnya kau yang paling senang mendengar Chang Min sembuh kan?” “Tidak apa-apa” jawab Byul Hye. Jae yang ternyata juga menyadari keanehan diantara mereka, memandang mereka bergantian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Impressive Girls -- 10 KONFLIK MENJELANG PENSI, PERSIAPAN PENSI DAN HAL-HAL NYEBELIN LAINNYA PART 3

Original Story by Ghee
Rewrite by Natthalie Loo



Besoknya di sekolahan pada jam pertama pelajaran anggota SCELLo lengkap plus Viggo, Kyo, Andrew, Melody dan Debbie dkk, sekarang lagi menjalani sidang di ruang kepsek. Sidang apaa? Kasusnya Lola? Itu jadi agenda sidang yang kedua, agenda sidang pertama adalah perkelahian antara SCELLo dan Debbie dkk. Berkelahi? Kok bisa sih? Nah untuk itu mari kita flashback ke sekitar 1 jam yang lalu.
Hari ini akhirnya Lola masuk sekolahan juga. Hari ini SCELLo lagi-lagi ke sekolah bareng dengan Erine sebagai sopir hari ini. Semuanya berjalan seperti biasa pada awalnya, semuanya dijemput satu persatu oleh Erine, ke sekolah dengan ribut dan parkir di tempat biasa. Nah masalah datang ketika si Debbie dkk yang berjumlah 4 orang menyapa Lola dkk.
“Udah masuk toh kirain udah KO”ejeknya diiringi tawa teman-temannya. “Nih anak cari gara-gara yah” seru Lola. “Mau kamu apaan sih?” tanya Erine. “Jangan halangin jalan kita” seru Lluna. “Emang ini jalannya makmu? Ini milik umum tauk aku mau ngapain juga terserah. Ga ada otak ya, kalo anaknya ga ada otak apa lagi ortunya” ejek Debbie sambil nunjuk-nunjuk kepala Ceries yang tepat ada di depanya dengan agak keras.
Hal ini jelas saja membuat Ceries dan lainnya marah. “Nih, anak bener-bener cari gara-gara ya?” seru Ceries kemudian mendorong Debbie dengan keras sampai terjatuh. “Kalo berkelahi kita ladenin” sambung Ceries dengan tegas dan membuang tasnya ke tanah. Gerakan Ceries diikuti teman-temannya yang lain melihat Debbie dkk berniat membalas. Lola membunyikan semua jari-jarinya, Lluna melipat tangannya dan melihat lawannya dengan mata nantang dan Erine yang ngomong. “Kenapa juga aku harus ikutan?”
Dan akhirnya perkelahian pun terjadilah selama kurang lebih 15 menit. Kalo bukan Andrew, Kyo, Chris dan Viggo datang dan menjauhkan kedua kelompok ini, para guru pun ga bisa ngapa-ngapain. Selain menonton dan meneriaki mereka untuk berhenti tentunya. Dan sekarang di sinilah mereka berada, ruangan kepsek. Debbie dkk terlihat terluka di beberapa bagian, sementara SCELLo masih segar bugar hanya sedikit berantakan dan kotor.  Dengan demikian kita tau siapa yang jadi pemenang.
Bu kepsek melihat mereka dengan tatapan bingung campur marah. “Berkelahi gara-gara masalah Lola?” kata bu kepsek namun tak dijawab. “Apa kalian sadar, kalian berkelahi di halaman depan. Dilihat sama orang-orang yang lewat di depan sekolah. Apa pikiran mereka tentang sekolah kita?” bu kepsek tampaknya mulai marah. “Kalian bilang anak ini mendorong Lola sampai jatuh dari tangga. Benar?” lanjut bu kepsek. Semua mengangguk dan di sambung kata-kata dari Lluna. “Kita punya saksi kok bu.”
“Tapi kan bisa aja saksinya komplotan sama mereka” Debbie membela diri. Ini dia nih yang ditakutkan. “Benar juga” seru bu kepsek. “Tapi, bu Melody ga mungkin boong” kata Erine. Bu kepsek hanya menghela nafas saja dan kemudian berbicara. “Ya sudah kebetulan ada yang kaya gini, jadi kita bisa tes sisi tv baru yang dipajang di koridor.” “Sisi apa?” tanya Lluna. “Sisi tv” jawab bu kepsek.
Jam istirahat di tempat duduk yang biasanya. “Cape deh, kalo tau ada sisi tv baru yang dipajang di koridor ngapain kita kaya orang crazy nayain orang kiri kanan” seru Ceries.  Keputusan akhir bu kepsek menskors Debbie selama 2 minggu, dan untuk SCELLo bebas hukuman. “Kalian salah karena berkelahi di sekolah, tapi kalian lagi-lagi berhasil membuatku menghukum yang bersalah. Dan lagipula akan susah kalo anggota OSIS dengan posisi penting seperti kalian tidak mengurus pensi. Jadi pastikan pensi kita berjalan dengan baik” seru bu kepsek disertai senyum SCELLo.
“Tapi masa Debbie cuman di skors sih. Bu kepsek terlalu lunak ah, mustinya dikeluarin tuh
 ujar Lola tanda flashback selesai. “Dari pada itu  untuk ngerayain ini kita mau party di mana?” tanya Viggo hepi. “Terus persiapan pensinya gimana?” tanya Andrew menghilangkan senyum di wajah semua orang.
“Nooo.. Aku belum selesai ngumpulin sponsor dan bikin proposal” Lluna setengah berteriak menyambar netbooknya dan segera pergi. “Lucu banget sih” ejek Kyo. “Konsumsi kita gimana Kyo?” tanya Andrew yang tau ga ada yang beres dengan kerjaan teman-temannya. Kyo langsung saja berdiri dari tempatnya dan berkata. “Shit... Aku lupa, Hah... kenapa aku mesti jadi seksi konsumsi sih” segera pergi. Melihat Ceries dan Viggo ketawa-ketiwi Andrew bertanya lagi. “Dekor dan sound systemnya udah ada?” “Noo....” Teriak Ceries dan Viggo barengan dan segera lari.
“Malang bener nasib teman-temanku. Untungnya aku cuman humas kerjaan yang paling nyantai plus cuman ngurusin berkas aktivitas kelas” seru Lola mengejek teman-temannya dengan senyum soknya. “Iklannya?” tanya Andrew yang tahu iklan adalah kerjaan humas. Lola berbalik ke arah Andrew dengan muka aneh dan berteriak. “Nyaaaaaaa........” Trus kalo Andrew kerjaannya udah kelar belon? “Untungnya aku seksi keamanan jadi ga perlu persiapan” serunya pelan melihat Lola lari kalang kabut.
Akhirnya mereka semua menyibukkan diri dengan persiapan pensi yang akan di mulai 2 minggu dari sekarang. .Cari sponsor lha, cari makan buat konsumsi panitia, cari EO untuk dekor panggung dan minjem sound system super lengkap, bikin poster iklan dll. Termasuk juga nih persiapan Lola untuk jadi kandidat miss sekolah.
“Lola jalannya yang tegap” Ceries memukul punggung Lola. Lola hanya bisa pasrah saja dipukulin pake mistar plastik. Dalam rangka ikut kontes miss sekolah, Lola yang tomboi diberi les private gimana jadi seorang LADY yang bener sama Ceries. Dan hari ini , mata pelajaran pertama untuk jadi LADY di pensi adalah cara jalan dengan bener. “Coba ulang, jalan dari sana” Ceries mulai marah-marah karena dari tadi Lola ga pernah bener. “Santai aja kali Ris” seru Lola ga dipeduliin Ceries.
Lola dengan malas memulai lagi sesuai instruksi Ceries, belum juga mulai Ceries udah main pukul lagi. “Bokong dikencengin, perut diisep, dada dibusungin dan dagu sedikit diangkat” kata Ceries sambil memukul dan menarik dagu Lola sedikit. “Coba sekarang jalan, jangan sampai posisi badanmu berubah” seru Ceries. Sementara Erine hanya melihat Lola yang mondar-mandir di hadapannya dengan tersenyum geli.
Latihan dijadwalkan akan selalu diadakan di apartemen Ceries, selesai persiapan pensi di sekolahan. Belum juga sepuluh langkah yang Lola jalani, Ceries teriak lagi. “Lola kamu terlalu kaku, rileks sedikit.” “Gimana sih Ris gini salah gitu salah” protes Lola. “Udah jangan banyak protes. Ini udah hari ke-3 kamu latihan tau. Sapa juga yang tensinya ga naik kalo cara jalan yang bener aja gak tau. Ulang lagi” bentak Ceries.  “Galak amat sih” celoteh Lola.
Lola dengan pasrah ngulang lagi dari awal. Saking bosennya disuruh jalan mulu sama Ceries, Lola membuka mulutnya buat bicara sama Erine. “Rin, Lluna ke mana?” “Tau katanya sih ada urusan penting tuh” jawab Erine. “Eh, fokus ke depan dilarang balik kiri kanan” protes Ceries. Lola memasang tampang sebelnya dan Erine hanya ketawa aja. “Kenapa juga harus aku yang kepilih” protes Lola kecil.
Kriiingg.... Kriiinnggg... Kriiingg.... telpon rumah Ceries berbunyi. “What the, ngeganggu banget sih” gerutunya sambil berjalan mengangkat telepon. “Hello. What Lola? Bentar deh” seru Ceries kepada si penelpon. “La, Andrew” panggil Ceries. “Andrew” seru Lola heran dan menerima telpon wireless yang diserahkan Ceries.
“Kenapa Drew?” “Latihan kamu udah selesai?” tanya Andrew. “Belon, mang napa? Lagian kenapa ga telpon di hp aja?” jawab Lola. “Ga nyambung.Kalo gitu entar aku jemput deh.” “Heh, jemput?” seru Lola. “Aduh Drew kamu baik banget deh say. Mau donk dijemput sama kamu” ejek Ceries yang ngedenger omongan Lola. “Apa sih yang ga buat kamu La” sambung Erine mengejek Lola. “Berisik banget sih” tanggap Lola. Tapi sepintas Lola ngedenger Andrew tertawa kemudian berkata. “Ga usah Drew aku bawa motor kok” seru Lola. “Oh, gitu. Ya udah. Bye” kata Andrew. “Bye” balas Lola. “Bye.. bye honey” Erine dan Ceries kompakan ngejek Lola.
“Ni orang berdua rese banget sih. Diam dikit kenapa sih?” protes Lola. “Ok, hari ini sampe di sini dulu deh. Capek aku ngajarin orang bolot kek kamu. But tommorrow sebelum latihan kita beli high heels dulu buat kamu. Aku ga mau high heels aku pada patah semua gara-gara kamu pake latihan” seru Ceries. “What the hell? High heels? Aku ga mau pake high heels” protes Lola. “Sapa suruh ikutan miss sekolahan” jawab Ceries
Pertengkaran hari ini tentang high heels dimenangkan Ceries. Maka karena itulah Lola menstater motornya dengan mulut manyun. “Sialan deh si Chris awas nanti ya” celoteh Lola sendiri. “Untuk menghilangkan stres pergi aja ke pasar malam La. Ini udah jam 6 kan pasti udah buka” saran Erine. “Boleh juga, kamu ikut kan Rin?” tanya Lola. “Sori, mama udah nelpon. Aku janji pergi shoping sama mama dan sepupu aku abis makan malem di rumah. Ajak Andrew aja deh” saran Erine. “Yah Erine payah. Ya udah aku ajak Andrew aja” seru Lola. “Happy ngedate” balas Erine dan pergi.
Lola menelpon Andrew, tapi ga diangkat sama sekali. “Kok ga diangkat sih?” seru Lola. Setelah sekian kali menelpon dan ga diangkat akhirnya Lola nyerah juga. “Ya udah mending aku pergi sendirian aja” serunya.
Segera saja Lola udah sampai di pasar malam yang dimaksud. Tapi Lola belum juga Lola mencopot helmnya, dia ngeliat hal yang semestinya ga boleh. “Lho, itu kan Lluna sama Andrew” seru Lola sambil membuka helmnya. Lluna dan Andrew keliatnnya asik banget, ketawa-ketiwi makan es krim bahkan gaandengan tangan. Lola yang baru kali ini ngeliat Andrew ketawa seperti itu jadi merasa sedikit jealous, karena di depannya Andrew ga pernah ketawa lepas seperti itu. Andrew malah membantu Lluna mengelap es krim yang nempel di pinggir bibirnya, balasannya Lluna mencium pipi Andrew.
Mendapat perlakuan kaya gitu Andrew bukannya marah ato mengelak ato apa gitu. Andrew malah merangkul pundak Lluna dengan akrab. Lola seperti ga percaya melihat itu menggosok-gosok matanya. Setelah matanya kembali terbuka Lluna dan Andrew menghilang dari pandangan. “Kok”  seru Lola seolah melihat halusinasi. Akhirnya Lola mengurungkan niatnya ke pasar malam dan pulang.
Esok harinya sebelum pelajaran dimulai dan sebelum Lluna dan Andrew datang, soalnya hari ini Lola ga dijemput Andrew. “Em, girls aku pengen nanya pendapat kalian nih” tanya Lola. “Apaan La kok harus bisik-bisik gitu?” tanya Ceries. “Bukan bisik-bisik Ris” sanggah Lola. “Apaan yang mau kamu tanya?” “Gini kemarin aku liat-liat comment orang di fb dan aku penasaran aja so aku pengen nanya pendapat kalian” jawab Lola. “So” seru Ceries.
“Gimana seandainya kalo kalian jadi cowok terus cewek kalian nyium pipi cowok lain?” tanya Lola. “No problem” jawab Ceries spontan. “Ris aku nanya dari perspektif orang Indonesia bukan perspektif Amrik” balas Lola. “No problem kok, kalo cuman di pipi ga pa-pa kok jawab Erine. “Why?” tanya Lola. “Cium di pipi artinya: kamu sahabatku” jawab Erine. “Oh,gitu yah” balas Lola.
“Trus kalo misalnya cewekmu dipelok sama cowok laen?” “Ga masalah” jawab Erine dan Ceries serempak. “Yang penting peluk yang dimaksud itu pelukan sesama sahabat” lanjut Ceries disetujui anggukan kepala Erine. “Lagian tergantung dia bule ato ga” lanjut Ceries. “Bule?” Lola heran. “Ato setidak-tidaknya orang yang pernah tinggal di abroad cukup lama. Soalnya itu emang hal biasa aja buat mereka kan, udah kayak budaya untuk nyapa teman”lanjut Erine. “Oh, gitu” Lola merasa agak tenang. “Napa emangnya naya-nanya gitu?” tanya Ceries. “Ga cuman penasaran aja sama perdebatan di fb kemaren” jawab Lola.
“Tp btw nih Rin, soal budaya pelok-pelokan orang Indo yang  abroad gitu. Kayaknya ga berlaku buat si Andrew ya, dia keknya selalu anti di pelok Kyo” seru Ceries. “
Kata siapa? Tuh” jawab Erine melirik ke pintu masuk. Terlihat Kyo, Andrew dan Chris saling merangkul pundak dan mendiskusikan sesuatu. “Belakangan keknya mereka ber-3 jadi tambah akrab deh” seru Lola.
Sementara di pintu masuk kelas, Lluna yang ingin masuk terganggu dengan ke-3 cowo itu. “Hello cowo-cowo bisa ga sih jangan diskusi di depan pintu” seru Lluna sedikit keras yang membuat Andrew berbalik. “Oh, sorry” jawabnya. Belum juga kerumunan itu bubar seseorang menyapa dari belakang. “Lluna.”
Yang dimaksud berbalik dan cukup kaget melihat cowo yang disukai Erine berdiri di depannya. “Ada apa?” tanyanya. “Erine udah datanga ga? Bisa panggilin dia?” jawab Mike. Lluna hanya mengangguk dan segera masuk melewati 3 cowo yang masih aja jadi hiasan dekat pintu masuk. “Emm, Rin kamu dipanggil kak Michael tuh” seru Lluna pada Erine.
“Heh” jawab Erine agak kaget. “Ehm, ehm,ehm duh dipanggil ama yayangnya tuh” goda Lola. “Yakin?” tanya Erine pada Lluna yang dijawab dengan anggukan kepala. “Go ahead. Sana ngapain masi bengong di sini. Sapa tau ada ajakan buat date” goda Ceries. Akhirnya Erine dengan ragu-ragu pergi menghampiri Mike yang berdiri di depan pintu.
Ga lama Erine balik ke kursinya dengan tampang kaya kaget kek abis liat penampakan. “kenapa Rin? Kok muka kamu aneh gitu sih”tanya Kyo ketika Erine melewati tempat duduknya. “Let me tell you” seru Viggo yang tiba-tiba aja nongol. “Viggo bisa ga tiba-tiba nongol like ghost ga sih?” protes Ceries kaget. “Dia diajak jadi pasangan dansa buat pensi nanti ama Mikey” seru Viggo. “Heh” seru yang lainnya.
“Bener Rin?” tanya Lluna. Erine mengangguk dengan muka yang mulai jadi merah karena malu. “Wow, kemajuan nih” seru Lola. Sementara Kyo, Andrew dan Viggo ikutan membahas soal Erine, Chris hanya bisa tersenyum kecut aja mendengar itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Impressive Girls -- 9 KONFLIK MENJELANG PENSI, PERSIAPAN PENSI DAN HAL-HAL NYEBELIN LAINNYA PART 2

Original Story by Ghee
Rewrite by Natthalie Loo


Ga buang-buang waktu, Kyo segera ke kelas Debbie. “Hello Deb” sapanya. “Eh, kak Kyo. Ada paan? Debbie balas naya. “Boleh bicara sebentar di tempat lain? Kamu boleh bawa temen kamu juga kok” kata Kyo sesuai instruksi Lluna biar ga ada kesan mereka mau ngeroyokin Debbie. Debbie yang sepertinya ngerti maksud Kyo mengiyakan dan menagajak 2 temannya.
Kyo membawa Debbie ke halaman belakang tempat yang lainnya lagi nunggu. “Yo” sapa Ceries begitu mereka nyampe. “Apa-apaan nih, kok tiba-tiba main keroyokan” sahut teman Debbie yang namanya Mira. “Cowo-cowo hanya sebagai penonton. Jadi 3 lawan 3 kan” sahut Lluna. “Nah kita mulai aja ya. Aku pengen nanya, waktu Lola jatuh kemarin kamu ada di lokasi kejadian kan?” tanya Erine baik-baik.
“Kamu nuduh Debbie gitu?” tanya teman Debbie yang namanya Cory. “Sori, ya non tapi kita ga nanya sama kamu”  jawab Erine dengan tenang. “So” tanya Ceries. “Emang aku yang ngedorong dia, lantas kenapa?” jawab Debbie. “Deb kamu beneran” seru Kyo. “Emangnya kenapa? Dia nyebeli  banget soalnya, apalagi kemaren itu...” omongan Debbie terputus oleh seruan Kyo. “Deb.”
“Apapun masalah kalian kita ga tau, tapi yang jelasnya kamu harus minta maaf sama Lola” kata Lluna. “For what?” seru Debbie yang bikin kesel aja. “For what? Kamu udah nyelakain orang lain, tapi masih bilang for what?” kata Ceries setengah berteriak tanda mulai emosi. Tiga orang cowo yang dari tadi no comment aja akhirnya ada perwakilan buat ngomong. “Ga pernah diajar tata krama ya? Di mana-mana orang yang bersalah ya minta maaf. Sudah bagus cuman minta maaf, dari pada kita suruh ke polisi tau” seru Andrew.
“Cowo-cowo bisa pada pergi aja ga?” seru Lluna. “Hah” seru kaget Viggo. “Oi.. oi... oi kalian ga bermaksud berkelahi kan?” tanya Kyo. “Berikutnya itu urusan perempuan. Jadi tolong tinggalin aja kami” seru Erine. “Oi...” seru Andrew namun langsung di potong sama Lluna. “Tolong.” Andrew menatap Lluna tajam demikian juga sebaliknya. “Jangan bikin masalah kalo gitu” seru Andrew dan berlalu pergi. “Oi, Drew” panggil Kyo. “Aku juga pergi aja” seru Viggo. “Oi Go, masa kamu juga sih?” tanya Kyo.
 “Mereka lebih hebat dari yang kamu  pikirin, tanpa cari masalah juga pasti beres kok. Jadi yuk pergi” seru Viggo menarik Kyo pergi. “Ya, tapi.” “Ga ada tapi-tapian” seru Andrew menunggu 2 temannya ini. Kemudian Andrew pun membantu Viggo menarik Kyo pergi. Setelah mereka pergi Debbie mulai ngomong dengan sikap nyebelin lagi.
“Mau pake kekuasan nih, mang kalian pikir kalian siapa?” serunya. “Ato mo pake kekerasan” seru Mira. “Maaf ya, tapi kita ga perlu pake cara curang seperti kamu” Ceries melotot ke Debbie. “Jadi mau kalian apaan?” tanya Debbie. “Udah jelas minta maaf sama Lola. Apa sih susahnya minta maaf” seru Erine. “Ga bakalan. Orang dia yang bikin salah ama kak Kyo” sanggah Debbie. “Urusannya dengan Kyo bukan urusan kamu. Kyonya aja ga ada masalah sama sekali sama Lola tuh” seru Ceries jengkel.
“Bukan urusan kamu” Debbie pelototin Ceries. “Kalo gitu urusan Kyo dan Lola juga bukan urusan kamu” balas Lluna. Lluna mendekat ke arah Debbie dan teman-temannya. “Mau apa kamu?” tanya Cory agak panik. “Denger ya kita bisa bikin kamu nyesel atas omongan kamu dan kelakuan kamu yang nyebelin itu” lanjut Lluna.
“Emang kalian punya kuasa apa? Gimana caranya coba? Ga ada saksi yang ngeliat kau kok” kata Debbie merasa menang. “Mau pake kekuasaan orang tua ya? Ga bisa pake tenaga sendiri toh” ejek Cory. Mendengar hal ini tentu saja membuat yang lainnya marah. “Aku kasih tau kalian ya. Kita tanpa pake kekuasaan ortu atopun kekuasaan OSIS dan kelompok, pasti akan bisa ngebuat kalian di skors  ato bahkan dikeluarin untuk masalah Lola” seru Lluna marah.
“Ouw yeah, buktiin dulu donk baru ngomong” seru Debbie. “Liat aja tanggal mainnya. Kita bakal pastiin itu terjadi” kata Ceries marah. “Saksi aja ga ada, gimana caranya coba” seru Mira ngejek. “Pake ini nih” Lluna menunjuk kepala Debbie dengan telunjuknya. “Jangan jadi murid kalo ga ada otak buat belajar” ejek Lluna. meski kesal diperlakukan seperti itu Debbie dkk tetap aja dengan gaya nyebelinnya tertawain Lluna, Erine dan Ceries. “Yang tertawa terakhir yang akan jadi pemenang” seru Erine yang menghetikan tawa Debbie ddk. Kemudian Lluna, Erine dan Ceries segera pergi dari situ.

***

Rapat dadakan dibuat di rumah Lola sepulang sekolah. “Heh, kalian mau ngerjain si Debbie?” tanya Lola. “Ya iya lha, secara dia keterlaluan penyebab kamu dikurung di rumah selama 5 hari” jawab Viggo yang juga ikutan misi kali ini. “Sori deh La” seru Kyo merasa bersalah. “Kyo ga harus minta maaf ini bukan salah kamu” seru Erine dibenarkan anggukan kepala Lola dan Ceries.
“Ok jadi kita mulai dari mana?” tanya Andrew. Semua orang langsung aja ngelirik Lluna, gudang ide ngerjain orang selama ini dan juga profokator kali ini. “Kenapa?” tanya Lluna. “Kenapa? Na jangan bilang kamu ga ada ide. Profokator untuk tidak menggunakan kekuasaan kita sebagai OSIS itu kamu kan, jadi harus ada ide” kata Ceries. “Ya kita harus cari saksi, itu aja yang kita perlukan kan” jawab Lluna. “Gimana?” tanya Kyo
“La boleh pinjam komputer?” tanya Lluna. “Pake aja” jawab Lola. Lluna beranjak dari tempatnya duduk ke depan meja komputer Lola. “Ngapain?” tanya Andrew. “Aku ingat semua yang ada di lokasi kejadian. Jadi aku mau cari data mereka” jawab Lluna. “Bukannya ga mau pake kekuasaan OSIS?” tanya Kyo. “Kata siapa aku mau pake data OSIS? Ga tuh. Biasanya juga aku ga pernah pake” jawab Lluna. “Jadi data yang biasanya kamu cari dapet dari mana?” tanya Ceries.
Lluna membalik dirinya dari hadapan komputer Lola. “Aku kan dah pernah bilang membobol database sekolah” seru Lluna ringan. “Hah, jadi yang kamu maksud membobol waktu itu bener-bener membobol?” tanya Erine dan dijawab dengan anggukan kepala Lluna yang udah menghadap komputer lagi. “Kalo pake netbook aku jadi lebih gampang soalnya udah ada beberapa program khusus sih” lanjut Lluna. “Ini sih namanya cyber crime” seru Andrew pelan. “Ah, Na. Komputerku ada passwordnya” seru Lola. “Telat udah kebuka dari tadi” jawab Lluna.
Yang lainnya mendekat berusaha melihat apa yang dilakukan Lluna, meski tak mengerti apapun. Dalam waktu kurang dari 10 menit Lluna sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. “Ok, kita tinggal mewawancara mereka-mereka ini” sahut lluna menunjuk layar komputer. “Kamu yakin kalo mereka semua ada di tempat kejadian?” tanya Viggo. “Yakin 100%” jawab Lluna. “jadi sekarang waktunya bagi tugas” lanjut Lluna.
Hari ini dari pagi Lluna, Erine, Ceries, Andrew, Kyo plus Viggo introgasi para murid sesuai daftar buatan Lluna. Dan pada jam istirahat di tempat duduk biasanya mereka rapat.
“Ga ada perkembangan sama sekali” seru Ceries kesal begitu duduk. Semuanya duduk dengan wajah lesu tanda kalo mereka juga belum ada perkembangan. “Sampe saat ini udah 5 orang aku tanya, tau ga mereka jawab apa?” kata Kyo. “Kalo cewe pasti jawabannya ‘Dari pada ngerjain hal ga guna mending jalan ama aku aja’” seru Viggo disetujui anggukan kepala Kyo. “Sama” seru Lluna dan Erine kompakan. “Cowo juga ada yang ngomong gitu kok” seru Andrew merasa jijik.
“Kok lesu amat sih tampangnya” seru sombong Debbie tepat saat makanan pesanan mereka diantar. Ngeliat kedatangan nih mahluk nyebelin, otomatis tampang mereka semua jadi kesal. “Ternyata ga bisa pake kekuatan sendiri untuk maju ya” ejeknya. “Orang gila ga usah dipusingin” kata Lluna lantang. Semua kemudian langsung sibuk dengan makanan mereka masing-masing sambil ngerumpi ria tanpa memperdulikan kehadiran Debbie dkk. Setelah kesal karena dicuekin akhirnya Debbie dkk pergi juga.
“Rese banget sih tuh orang” seru Viggo. “Dari pada kesal sama orang lain mending kita susun pertanyaan aja buat interogasi selanjutnya” kata Erine sambil ngeluarin daftarnya. “Ini sudah, terus yang berikutnya...” Erine terbelak melihat nama yang tertera pada daftarnya. “Kenapa Rin? Kek abis liat setan aja” ejek Kyo melihat ekspresi Erine.
Penasaran dengan daftar Erine, Ceries langsung merebutnya dari tangan Erine. “Eh, Ceries balikin” seru Erine kaget. “Michael William Balfe? Michael anak kelas 3 yang pernah kamu bilang?” tanya Ceries dengan senyum aneh. Erine sama sekali tidak menjawab, tapi dari mimiknya Ceries tau kalo dia benar. “Pintar Na” seru Ceries ke Lluna. Lluna membalas dengan membentuk simbol peace dengan jari telunjuk dan tengahnya.
“Lluna curang bagian kelas 3 kan kerjaan Viggo sama Andrew. Kok diopor ke aku” protes Erine sedikit manja. “Sengaja” jawab Lluna ringan. “Lluna jahat” Erine memukul lengan Lluna. “Kenapa mangnya Rin? You like him? Kalo ia entar aku sampein salam kamu deh, kita 1 kelas kok” tambah Viggo. Erine kaget mendengar kata-kata ‘you like him’ dari pernyataan Viggo. Wajahnya langsung aja berubah jadi merah kaya kepiting rebus. “Heh, beneran Rin?” tanya Kyo. “Gampang banget ditebak” tambah Andrew.
Mendengar semua itu wajah Erine jadi tambah merah aja. “Udah dong. Jangan ejek aku mulu” protesnya sedikit manja. “Pucuk dicinta ulampun tiba, orangnya nongol tuh Rin” kata Ceries tertawa ngejek. “What?” seru Erine. Erine kemudian mengikuti kode mata Lluna. Begitu melihat orang yang dimaksud, Erine jadi kaget.”Ha...” Erine berbalik. “Oh My Gosh aku musti ngapain” seru Erine mulai tegang. “Samperin dan introgasi dia” Viggo berkata dengan semangat. “Ta..tapi” Erine mulai gugup. “Udah sana” Lluna mendorong Erine pelan.
Akhirnya Erine pun berdiri dari kursinya. Baru juga berjalan 3 langkah Erine berbalik melihat yang lain dengan muka memohon biar yang lain gantiin dia. Tapi justru Ceries mengibaskan tanganny isyarat untuk maju. Kyo memberi semangat dengan mengepalkan tanggannya dan berbicara pelan “Ganbatte.” Sementara Andrew memberi tanda ok dengan jarinya.
Setelah menghela nafas cukup panjang, akhirnya Erine menghampiri Michael yang lagi berdiri di counter makanan lagi berpikir mau makan apa. Dengan agak gugup Erine mendekat dan membuka mulutnya. “Emm, anu permisi.” Orang yang dimaksud berbalik memandangi Erine. “Kak Michael kan?” tanyanya. “Ya” jawab Michael menganggukkan kepala. “Boleh ngomong sebentar ga?” tanya Erine lagi. “Boleh, tapi ga enak juga ngobrol sambil berdiri di sini. Gimana kalo duduk di tempat kosong aja?” tanya Michael. “Ok” Erine mengangguk.
Setelah mendapat kursi kosong, Michael memulai pembicaraan. “Erine jadi pa yang pengen kamu bicariin?” tanya Michael. “Ha, kakak tau nama saya?” “Siapa sih ga kenal SCELLo. Anak kelas 1 yang baru masuk 3 bulan ini juga udah pada kenal, walopun ga semuanya sih. Apalagi aku yang udah kelas 3” jawabnya. “Oh” seru Erine. “Gimana dengan Lola? Udah sembuh?” tanya Michael. “Udah sih, tapi masih perlu istirahat katanya. Makanya aku mewakili Lola pengen nanya sesuatu” kata Erine. “Apaan?”
“Gini katanya waktu dia jatoh ada yang dorongin dari belakang” kata Erine. “Masa sih?” Michael keliatan kaget. “Sori sebelumnya ya kalo cara nanya aku ga bener ato bikin kakak marah, kalo ga salah kakak ada di sekitar TKPkan? Kakak ada liat orang yang dicurigai ga?” “Kenapa aku musti marah kalo cuman ditanya kaya gitu. Aku emang di sana, tapi ga liat pa-apa tuh” jawab Michael.
“Oh, gitu ya. Makasih ya kak untuk infonya” balas Erine. “Oh, ia tunggu bentar Rin” pangggil Michael ketika Erine baru aja mau berdiri. “Kenapa kak?” “Lola kan ga masuk, sementara draft kegiatan per kelas untuk pensi kan terakhir dikumpul hari ini. Aku kasih ke kamu aja ya? Kamu anggota OSIS juga kan?” tanya Michael. “Oh, ia boleh kok” Erine menerima selembar kertas yang diserahkan Michael. “Kalo gitu aku duluan ya kak” kata Erine.“Ga usah manggil kakak lah, terlalu formal. Panggil Mike aja.” Erine hanya tersenyun dan mengangguk pelan kemudian pergi dan bergabung dengan teman-temannya.
Nah, untuk mempersingkat waktu. Tiga hari kemudian rapat sepulang sekolah diadakan di rumah Lola. “Ga ada harapan sama sekali” seru Ceries kesal. “Ck, kita mau sampai kapan gini sih. Ga ada yang jelas sama sekali” sambung Kyo. Mereka semua menarik nafas dengan kompak banget meratapi perkembangan kasus Lola yang ga ada kemajuan. “Ck, kalo gini nih kita bakal terus-terusan di ketawain sama Debbie” seru Ceries yang kemudian di balas dengan helaan nafas semua orang kompakan.
Udah sekitar sejam mereka semua duduk meratapi nasib di kamar Lola. “Ah, udah jam 3.30. aku mau balik duluan ya aku mau jemput kakak di airport nih” seru Lluna tiba-tiba kemudian beranjak dari tempatnya. “Aku antar” kata Andrew karena hari ini Lluna ga bawa mobil. “ga usah aku naik taxi aja deh” balas Lluna. “Naik motor lebih cepat dan lagian gratis” balas Andrew. “Ya udah. Bilangin ke Lola ya kalo aku pulang duluan” seru Lluna pada yang lain karena Lola lagi mandi.
Tepat ketika baru saja Lluna kedengaran keluar dari pintu pagar depan, Lola masuk ke kamar. Melihat anggota timnya ga lengkap Lola bertanya. “Lho, kemana si Lluna?” “Pulang, katanya mau jemput kak Fred di airport” jawab Erine. “Oh, terus kalo si Andrew?” tanya Lola lagi. “Nganter Lluna” jawab Viggo ringan. “Eh” seru Lola agak heran.
Kemudian pada keesokan harinya semuanya menjalani hari dengan lesu dan sibuk. Perhatian mereka terhadap kasus Lola sedikit teralihkan karena harus mengurus PENSI. Sekedar info mereka semua anggota OSIS, termasuk juga anak baru seperti Ceries, Kyo,Andrew dan Viggo. Kok kenapa bisa begitu? Mereka termasuk anak baru kan kok bisa jadi anggota OSIS? Bisa aja karena memang pemilihan anggota OSIS belum lama setelah Kyo, Andrew dan Ceries masuk. Alasan lainnya karena Lola adalah ketos.
Tapi mereka jadi teringat lagi pada kasus Lola saat pulang sekolah. Tepatnya setelah seseorang nyamperin Lluna, Ceries dan Erine di parkiran. “Emm, a..anu” seorang cewe berseru kecil dan terbata-bata. Tapi 3 orang yang dimaksud malah noleh kiri-kanan mencari orang yang nih cewe ajak bicara. “Sori ngomong ama kita?” tanya Ceries. Cewe itu hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. “Ada apaan ya?” tanya Erine. Cewe itu ngangkat kepalanya dan berkata “Soal kak Lola” katanya. Perkataan ini cewek makin membuat  yang lainnya penasaran, emang kenapa dengan Lola?

***

Pertemuan mendadak diadakan di rumah Lola dengan anggota tim investigasi lengkap, plus cewek aneh yang nyamperin Lluna, Ceries dan Erine tadi siang. Cewek ini duduk dengan gelisah. Alasannya banyak aja, gugup karena dikelilingi orang-orang keren yang terkenal di sekolahan. Atau gugup karena posisinya seperti sedang dikeroyokin sama mereka semua.
“Jadi nama kamu Melody, anak kelas X-1?” tanya Kyo. Melody hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kyo. “Trus kamu bilang ngeliat orang yang ngedorong Lola?” tanya Viggo. Melody lagi-lagi hanya mengangguk untuk menjawab Viggo. Ga suka cara Melody menjawab, Andrew memukul meja dengan agak keras dan berkata. “Kalo ngomong yang jelas.” Melody yang kaget jadi makin ciut saja.
“Ok, stop sampe di sini. Cara kalian bertanya itu malah bikin  Melody tambah takut tauk. Ga bisa ngomong baik-baik apa? Kamu juga Drew ga usah pake acara pukul meja segala” protes Lola. Memang sih cara mereka ngintrogasi Melody sedikit kelewatan, palagi tampang mereka udah kaya preman aja. “Ok, tadi kamu bilang tau orang yang ngedorong Lola. Ia kan? Bisa kasi tau siapa?” tanya Lluna dengan agak lembut. “Aku ga begitu ingat mukanya, kalo aku ngeliat orangnya aku pasti tau” jawab Melody gugup.
Lluna membuka netbooknya, dan dalam waktu 5 menit memnyodorkan netbook itu ke Melody. “Apa ini orangnya?” Lluna memperlihatkan foto Debbie. Melody melihat dengan teliti tapi tampak bingung. Lluna mengambil netbooknya dan mencari foto lainnya. “Salah satu dari mereka mungkin?” tanyanya lagi. Namun lagi-lagi Melody hanya melihat dengan bingung, tapi kemudian mengangkat tangannya ke layar. “Kayaknya mirip yang ini deh” menunjuk foto Debbie.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Accidentally in Love ??? -- Chapter 10

Staring : TVXQ, Kim Yoo Bin, Lee Byul Hye, Kim So Eun, Jang Riin, Park Ji Soo
Author :Natthalie Loo

Jam istirahat siang di kelas 3-1. “Siapa sih orang iseng yang pasang foto kek gitu, bikin heboh aja” seru Jun Su. “Tapi aku tidak tau kalau kau punya 4 orang oppa” seru Chang Min. “Kalian tak bertanya kan” jawab Byul Hye. “Kenapa aku harus duduk di sini?” tanya Yoo Bin yang dapat tempat duduk di sebelah Jae. Sebel dengar komentar Yoo Bin, Jae membalas. “Kok.kaya ada bau ayam yang belum mandi ya?” “Bisa berhenti berkelahi, atau kalian bisa duduk di tempat lain saja” Ji Soo menyela sebelum Yoo Bin buka mulut. Akhirnya dua orang ini diam juga.
Sementara itu di luar kelas Jess dan So He ngintip dari jendela. “Kenapa sih yang aku foto harus oppanya dia?” Jess terdengar kesal. “Jess sih, asal pajang aja di mading. Harusnya cari tau dulu kan” seru So He. “Kenapa kau menyalahkanku? Dan kenapa pula baru kau katakan sekarang” balas Jess. “Ah, sudahlah mending kembali ke kelas saja” So He berlalu pergi diikuti Jess.
Tak lama setelah So He dan Jess pergi, datanglah oppa-oppanya Byul Hye ke kelas. “Byul Hye” seru nyaring Min Ho. “Oppa” Byul Hye segera menghampiri oppanya. “Di mana Sung Min oppa?” tanya Byul Hye. “Oh, dia sedang ke wc” jawab Jun Ki. “Annyeonghaseo oppa” yang lain datang menyapa. “Oh, hello long time no see” seru Dong Hae. Dan kemudian jadi acara ngerumpi di depan kelas.
Sementara itu dalam perjalanan kembali ke kelas So He bertabrakan dengan seseorang. “Auw” So He jatuh terduduk. “Oh, mianhe yo. Gwaenchana?” tanya cowok yang nabrak So He. “Jalan pakai mata donk” seru kesal So He. “Oh, mianhe yo. Biar kubantu berdiri” cowok itu mengulurkan tangannya. So He yang pada awalnya tidak memperhatikan wajah cowok itu sekarang menengok ke atas menerima uluran tangannya. Kemudian setelah So He benar-benar memperhatikan wajah cowok yang ga lain ga bukan adalah Lee Sung Min, matanya terbelak saking cutenya Sung Min.
So He tak bisa berkata apa-apa, setelah dibantu berdiri selain menatap Sung Min. “Gwaenchana?” tanya Sung Min dengan senyum kekankan khasnya. So He hanya bisa mengangguk tanpa berbicara. “Jeongmal? Tak ada yang luka? Jangan sampai gadis manis sepertimu terluka” tanyanya dengan polos. “Anniyo, aku tidak apa-apa kok” jawab So He terus menatap Sung Min.
“Ya, So He” Jess melambaikan tangannya di depan wajah So He. Tapi baik So He maupun Sung Min tidak mengubris Jess. “Umm... Bisakah kau menunjukkan jalan ke kelas 3-1?” tanya Sung Min. “Mwo?” Seru So He. “Kelas 3-1, aku mencari dongsaengku.” “Dongsaeng?” tanya So He. “Ne, namanya Lee Byul Hye.” “Oh, Byul Hye. Aku tau dia, dia temanku” jawab boong So He. “Mwo? Chingu?” seru kaget Jess. Segera saja So He menginjak kaki Jess sebelum dia mengatakan sesuatu lebih lanjut. “Ouch...”
“Oh, chingu?” tanya Sung Min. “Ne. Mau kuantar ke kelasnya?” “Ne.” “Ya, So He” teriak Jess. So He berbalik ke Jess dan berkata. “Jess, aku akan mengantar oppanya Byul Hye ke kelas dongsaengnya. Silahkan balik ke kelas duluan y” seru riang So He dan bergegas pergi. “Ya So He” teriak Jess namun tak dipedulikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Accidentally in Love ??? -- Chapter 9

Staring : TVXQ, Kim Yoo Bin, Lee Byul Hye, Kim So Eun, Jang Riin, Park Ji Soo
Author :Natthalie Loo

Seminggu kemudian, orang-orang memenuhi mading sekolah. Byul Hye dkk yang hari ini datang sama-sama pun sepertinya tertarik dengan kerumunan orang itu. “Sepertinya ada yang menarik di mading” seru Yoo Bin dan berjalan mendekat. Namun semakin mereka mendekat pandangan mata setiap orang menatap mereka dengan tatapan aneh. Terutama tatapan tajam itu tertuju pada Byul Hye. “Ada apa dengan mereka?” tanya So Eun. Byul Hye hanya mengangkat bahu. “Ada yang aneh sepertinya” seru Riin.
Jae dkk yang berada di barisan paling luar dari kerumunan itu pun memandang dengan tatapan yang sama. Terutama sangat terlihat jelas pada Chang Min. “Kalian kenapa sih?” tanya Ji Soo. Jae menganggukkan kepalanya ke arah mading sebagai tanda agar mereka melihat mading. Yoo Bin yang kesal dengan semua tatapan itu dan rasa penasarannya menorobos kerumunan diikuti yang lainnya. “Minggir semuanya” teriaknya.
Sesampainya di depan mading ekspresi terkejut satu per satu tampak di wajah 5 sekawan ini. “Omo...” seru Yoo Bin melihat pengumuman di mading. LEE BYUL HYE KUMPUL KEBO DENGAN 4 COWOK. Begitulah bunyi pengumumannya lengkap dengan foto sebagai buktinya. “Mwo?” seru terkejut Byul Hye melihat semua ini.
Seminggu yang lalu....
Jam pulang sekolah Chang Min dan Byul Hye masih tinggal di kelas untuk tugas piket mereka. Chang Min sedang berusaha mengisi buku piket dengan susah payah karena lehernya masih sakit dan tidak bisa terlalu menunduk. Byul Hye yang melihat segera saja mengambil buku piket yang dimaksud. “Bukankah sudah kukatakan aku saja yang mengerjakan?” serunya. “Aku tidak mungkin membiarkanmu mengerjakannya semua, aku kan juga dapat jatah piket hari ini” jawab Min.
“Anniyo” Byul Hye menyimpan buku piket di meja guru dan membersihkan papan tulis. Tapi walaupun Byul Hye cukup tinggi, dia tetap perlu jinjit untuk benar-benar menghapus papan tulis. Ini karena Kang Ta saengnim sangat hobi memenuhi papan tulis di setiap sudut dan tepinya dengan tulisan. Tiba-tiba tangan Chang Min berusaha mengambil alih penghapus papan di tangan Byul Hye.
“Chang Min biar aku saja” seru Byul Hye begitu tangan Chang Min menyentuh tangannya. “Aku tidak perlu terlalu banyak menggerakkan leherku untuk menghapus papan tulis, jadi tidak ada masalah kan?” serunya dan sedikit menunduk kepada Byul Hye yang sedang menegadah melihatnya. Jarak diantara keduanya cukup dekat. Dan entah mengapa mereka tidak menghindar atau melakukan gerakan lain. Malahan mereka saling bertatapan. Dan entah sadar atau tidak, entah lehernya sakit atau tidak Chang Min perlahan-lahan semakin menundukkan kepalanya. Sementara Byul Hye mematung dalam posisinya semula.
Bersamaan dengan terbukanya pintu kelas dan seruan Han Kyung “Aku melupakan bukuku.” Chang Min segera membalikkan kepalanya ke arah berlawanan. Dan sedetik kemudian berteriak kesakitan. “Auuuuuuwwwww.....” serunya memegang lehernya. “Oh, Chang Min gwenchana?” Byul Hye pun sadar. “Ya, kau membuatku kaget” protes Han Kyung. “Oh, mianhe?’ seru Chang Min kesakitan. “Sebaiknya kita pulang saja deh” Byul Hye mengambil tasnya dan tas Chang Min.
Setelah Han Kyung pun tak terlihat lagi, tiba-tiba saja ada yang berteriak. “AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH.” “So He stay calm” teriak Jess. “Eotteohge? Bagaimana aku bisa tenang melihat yang tadi?” seru So He yang ternyata udah dari tadi ngintipin Min dan Hye. “Udah tenang dulu, kita musti susun rencana dulu” jelas Jess. “Ga usah rancana-rencanaan, pokoknya hari ni juga aku harus bisa nemuin kelemahan ato apapun yang bisa buat Minnieku sebal sama Byul Hye.” “Caranya?” seru Jess agak kesal. “Kita ikutin aja dia” seru So He ringan. “Assa. Tumben pinter.” “Kalo gitu ka jyo” ajak So He.
Bukannya mendapat yang diinginkan, So He makin kesal aja ketika liat Byul Hye masuk ke rumah Chang Min. “Ughhhh, ngapain sih dia di rumah Minnieku.” Tak lama kemudian Byul Hye dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Chang Min, membawa serta semua perlengkapan menginapnya. “Mwo? Dia keluar, ayo ikuti dia” seru Jess.
“Ya berapa lama lagi kita harus jalan sih?” tanya Jess mulai capek setelah jalan 15 menit. “Tanyakan saja padanya,jangan padaku” seru bego So He menunjuk Byul Hye yang jalan beberapa meter di sepan mereka. “Babo, kita sedang mengikutinya diam-diam, jelas tidak mungkin kita bertanya padanya” Jess menjitak kepala So He. So He mengelus kepalanya yang sakit. “Oh, liat” seru Jess menunjuk ke depan.
“Byul Hye seorang cowo berteriak. Byul Hye dengan riang melambaikan tangan dan segera berlari menghampiri 3 orang cowok yang berdiri di depan sebuah rumah. “Mwo?” seru So He. “Kamera” seru Jess tiba-tiba dan mengeluarkan kamera yang memang kadang-kadang dibawanya. “Untuk apa?” tanya So He. “Babo liat itu” Jess mulai memfoto.
Seorang cowo lain keluar dari dalam rumah. Byul Hye dengan riang menghampiri mereka. Dan tanpa ragu-ragu memeluk mereka satu persatu. Bahkan pakai acara cupika cupiki lagi. “Omo... Dia punya 4 cowo?” tanya bego So He. “Entahlah. Tapi yang jelas  ini pasti bisa bikin dia keluar dari sekolah” jawab Jess.
“Lee Byul Hye ini hal yang paling memalukan yang pernah terjadi di sekolah kita” kepsek sudah mulai berkoar-koar karena masalah mading tadi. Sekarang ini Byul Hye sedang disidang di ruang guru ditemani kawan-kawannya, termasuk juga Jae dkk.
 “Saengnim ini hanya salah paham, aku bisa...” omongan Byul Hye terpotong seruan marah pak kepsek. “Apa yang salah paham? Lalu bagaimana dengan foto-foto ini, bagaimana kau bisa bilang salah paham kalo ada bukti.” “Oleh karena itu izinkan aku menjelaskan” balas Byul Hye. “Tak ada yang perlu dijelaskan. Buktinya sudah begitu jelas.” Akhirnya Byul Hye diam saja, melihat pak kepsek mondar mandir  di depannya.
“Kangta saengnim sebagai wali kelas mereka, seharusnya kau bisa mendidik muridmu dengan lebih baik. Tapi coba lihat ini” pak kepsek berkoar lagi. “Bagaimana kalo kita mendengar penjelasannya dulu, siapa tau ini benar salah paham saja” jawab Kangta saengnim. “Kau juga sama saja,bukti sudah ada masih membela dia.”
“Menyebalkan sekali sih orang ini” bisik Ji Soo disetujui dengan anggukan kepala yang lain. “Pokoknya aku sudah memanggil walimu untuk datang sekarang juga. Dan bersiaplah untuk dikeluarkan” seru pak kepsek pada Byul Hye. “Terserah” seru cuek Byul Hye.
Sementara itu sepertinya terjadi sedikit keributan di halaman depan. Dua mobil sport open cap masuk ke halaman sekolah, di dalamnya duduklah masing-masing 2 cowok cakep n keren. Seorang murid di lantai 2 yang duduk di dekat jendela yang kebetulan melihat,jadi awal keributan. “Mwo? Siapa itu yang datang naik mobil mewah, cakep lagi.” Perkataannya ini ternyata didengar beberapa kaum hawa yang duduk di pinggir jendela, dan tentu saja mempengaruhi mereka. Alhasil sebagian besar cewek-cewek dalam kelas ribut tak terkontrol. Kemudian hal ini menjalar ke kelas lantai 1.
Keempat cowok yang dibicarakan tadi masuk ke gedung sekolah dengan gaya super cool. Kontan cewek-cewek yang lagi belajar dalam kelas, matanya langsung nembus ke koridor lewat jendela. “Annyonghaseo, bisakah beritau pada kami di mana ruang guru” tanya salah satu dari mereka pada murid cewek yang kebetulan lewat.  Dan cewek itu cuman bisa nunjuk arahnya dengan mata ga kedip. “Gomawo” kata cowok lain.
Tok..tok..tok... Salah satu dari mereka mengetuk pintu ruang guru. “Silahkan masuk” seru lantang pak kepsek. “Annyeonghaseo, anda memanggil kami atas masalah adik kami. Ada apa dengan Byul Hye?” “Mwo?” seru kaget pak kepsek sambil melihat bergantian foto dan empat orang tadi. “Mwo? Seru kaget Jess dan So He yang mengintip dari jendela ruang guru. “Oppa!” seru Byul Hye menyapa oppanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
v